Politik dan Fenomena Pembelahan Sosial Akibat Kampanye Agresif

Jerat Kampanye Agresif: Menipisnya Tenun Kebangsaan

Arena politik modern seringkali diwarnai dengan kampanye yang tak jarang bergeser dari adu gagasan menjadi pertarungan emosi dan identitas. Fenomena ini, sayangnya, berpotensi besar memicu pembelahan sosial yang dalam dan meresahkan. Kampanye agresif, yang mengedepankan retorika polarisasi dan demonisasi lawan, kini menjadi ancaman serius bagi kohesi masyarakat.

Pada intinya, kampanye agresif cenderung mengandalkan narasi "kita vs. mereka". Alih-alih berfokus pada program atau solusi, fokusnya beralih pada pencitraan lawan sebagai musuh yang harus dihancurkan. Ini dilakukan melalui eksploitasi sentimen primordial, penyebaran disinformasi, dan penggunaan bahasa yang memprovokasi. Akibatnya, masyarakat terpecah bukan lagi berdasarkan perbedaan pandangan yang sehat, melainkan loyalitas buta dan kebencian terhadap ‘yang lain’.

Peran media sosial dan algoritma digital memperparah keadaan. Informasi bias dan hoaks menyebar cepat, membentuk ‘gelembung gema’ (echo chambers) di mana individu hanya terpapar pandangan yang menguatkan prasangka mereka. Ruang dialog dan empati menyempit, digantikan oleh polarisasi yang semakin mengeras, mengubah perbedaan politik menjadi permusuhan pribadi.

Pembelahan sosial akibat kampanye agresif bukan sekadar dinamika politik biasa; ini adalah ancaman serius bagi stabilitas, toleransi, dan bahkan fondasi demokrasi. Penting bagi masyarakat untuk lebih kritis dalam menyaring informasi dan menuntut narasi politik yang lebih konstruktif. Elit politik juga memiliki tanggung jawab besar untuk mengedepankan etika dan persatuan, bukan justru memperlebar jurang perpecahan demi kemenangan sesaat yang berujung pada menipisnya tenun kebangsaan kita.

Exit mobile version