Ketika Aliansi Politik Berubah-Ubah Tanpa Landasan Ideologis

Politik Bunglon: Ketika Ideologi Hanya Sekadar Hiasan

Dunia politik kerap menampilkan fenomena aliansi yang rapuh dan berubah-ubah. Partai-partai yang kemarin saling serang, hari ini bisa berpelukan mesra. Lawan politik bisa menjadi kawan, dan kawan bisa beralih kubu, seringkali tanpa landasan ideologis yang jelas. Ini adalah wajah pragmatisme ekstrem, di mana orientasi utama adalah kursi dan kekuasaan, bukan visi atau prinsip.

Konsekuensinya:

  1. Lanskap Politik Tak Terduga: Politik menjadi arena tawar-menawar yang cair. Garis pemisah ideologi menjadi kabur, membuat partai-partai bisa berganti kawan dan lawan dengan mudah, tanpa perlu menjelaskan perubahan arah kebijakannya kepada konstituen. Ini menciptakan ketidakstabilan dan sulit diprediksi.

  2. Erosi Kepercayaan Publik: Bagi rakyat, kondisi ini menimbulkan kebingungan dan apatisme. Bagaimana bisa memilih partai jika arah kebijakannya bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kepentingan aliansi baru? Kepercayaan publik terhadap institusi politik terkikis, karena janji-janji yang diusung dalam kampanye menjadi tidak relevan saat aliansi berubah.

  3. Kebijakan Publik Tidak Konsisten: Tanpa landasan ideologis yang kuat, kebijakan publik cenderung inkonsisten. Setiap aliansi baru bisa membawa agenda yang berbeda, mengorbankan program jangka panjang demi kepentingan sesaat atau janji politik. Demokrasi kehilangan substansinya ketika pilihan ideologis dan programatik tergantikan oleh manuver kekuasaan.

Pada akhirnya, politik tanpa landasan ideologi yang kokoh adalah politik yang rapuh. Ia mungkin efektif dalam meraih kekuasaan sesaat, namun gagal membangun fondasi kebijakan publik yang konsisten dan berkelanjutan. Masyarakat berhak atas politik yang lebih berprinsip, bukan sekadar drama perebutan kursi.

Exit mobile version