Mengapa Debat Politik Sering Gagal Menyentuh Esensi Permasalahan

Retorika Hampa: Mengapa Debat Politik Gagal Menyentuh Inti Permasalahan

Debat politik, yang seharusnya menjadi panggung pencerahan dan pencarian solusi, seringkali berakhir sebagai pertunjukan retorika tanpa kedalaman. Alih-alih menyelami esensi permasalahan, kita justru disuguhi adu argumen yang dangkal. Mengapa demikian?

  1. Fokus pada Kemenangan, Bukan Pemahaman: Tujuan utama sering bergeser dari mencari solusi terbaik menjadi sekadar "memenangkan" debat. Ini mendorong penggunaan taktik menjatuhkan lawan, bukan mendalami substansi isu.

  2. Simplifikasi Berlebihan: Isu-isu kompleks sering dipadatkan menjadi "soundbite" atau slogan menarik yang mudah dicerna, namun kehilangan nuansa dan kedalaman. Akar masalah yang rumit terabaikan demi narasi yang sederhana.

  3. Dominasi Emosi dan Serangan Personal: Daripada berfokus pada data dan fakta, debat kerap diwarnai oleh emosi, tuduhan pribadi (ad hominem), atau generalisasi. Ini mengalihkan perhatian dari pokok bahasan ke drama dan konflik.

  4. Agenda yang Sudah Terkunci: Banyak peserta debat datang dengan posisi yang sudah final, tanpa kemauan untuk mendengarkan, mempertimbangkan perspektif lain, atau mencari titik temu. Ini menjadikan diskusi satu arah dan tidak konstruktif.

  5. Peran Media dan Format Acara: Media seringkali lebih menyoroti drama, konflik, atau momen-momen sensasional. Format debat yang terburu-buru dengan batasan waktu ketat juga mempersulit eksplorasi mendalam atas isu-isu penting.

Pada akhirnya, debat politik seringkali menjadi tontonan yang menghibur, namun minim tuntunan. Untuk menyentuh inti permasalahan, kita membutuhkan kejujuran intelektual, kemauan mendengarkan, dan keberanian untuk keluar dari jebakan retorika demi solusi nyata.

Exit mobile version