Ketika Aspal Bicara Politik: Manipulasi Data di Balik Janji Infrastruktur
Infrastruktur adalah tulang punggung kemajuan sebuah bangsa, fondasi yang menopang ekonomi dan kualitas hidup masyarakat. Namun, di arena politik, isu krusial ini kerap beralih fungsi menjadi senjata kampanye yang tajam, bahkan rentan terhadap manipulasi data.
Para kandidat berlomba-lomba menawarkan visi pembangunan infrastruktur, mulai dari janji ambisius pembangunan baru hingga kritik pedas terhadap proyek yang mangkrak atau kualitas yang buruk. Isu ini menjadi magnet elektoral, menggerakkan emosi pemilih dengan harapan perbaikan atau kemarahan atas kegagalan.
Di sinilah celah manipulasi data terbuka lebar. Angka-angka pembangunan dipoles, persentase peningkatan dibesar-besarkan, sementara data tentang biaya, dampak lingkungan, atau kualitas yang meragukan sengaja disembunyikan atau dikecilkan. Statistik disajikan secara selektif, narasi dibentuk untuk mendukung agenda politik tertentu, bukan merefleksikan realitas objektif. Proyek yang seharusnya memakan waktu lima tahun diklaim selesai dalam dua tahun, atau anggaran yang membengkak disamarkan dengan klaim efisiensi.
Konsekuensi dari politisasi dan manipulasi data ini sangat serius. Kepercayaan publik terhadap informasi resmi terkikis, keputusan kebijakan yang diambil menjadi bias, dan alokasi anggaran bisa jadi tidak tepat sasaran. Rakyat pada akhirnya dirugikan oleh janji-janji kosong atau pembangunan yang tidak berkelanjutan, yang hanya berfungsi sebagai panggung pencitraan sesaat.
Maka, peran masyarakat sipil dan media independen sangat krusial untuk menuntut transparansi, memverifikasi data, dan mendorong akuntabilitas para pembuat kebijakan. Jangan biarkan aspal pembangunan hanya menjadi alas kaki kepentingan politik, melainkan fondasi kokoh kemajuan yang jujur dan merata bagi semua.