Desa Kosong, Kota Sesak: Jejak Urbanisasi Tak Terbendung
Urbanisasi, fenomena perpindahan penduduk dari wilayah pedesaan ke perkotaan, mulanya dianggap sebagai motor penggerak ekonomi. Namun, kini ia mulai menunjukkan sisi gelapnya: kota-kota kecil dan pedesaan terancam kehilangan denyut kehidupannya, sementara kota-kota besar menanggung beban yang tak kalah berat.
Daya tarik kota besar tak terbantahkan. Janji pekerjaan yang lebih baik, akses pendidikan berkualitas, fasilitas kesehatan memadai, hingga gaya hidup modern menjadi magnet kuat, mendorong jutaan orang meninggalkan kampung halaman mereka. Sektor pertanian yang kurang menjanjikan atau minimnya kesempatan di daerah asal semakin mempercepat eksodus ini.
Akibatnya, kota-kota kecil dan desa-desa mengalami pengosongan. Generasi muda pergi, menyisakan lansia dan anak-anak. Produktivitas menurun, toko-toko tutup, sekolah kekurangan murid, dan bahkan adat istiadat perlahan luntur karena minimnya penerus. Daerah-daerah ini kehilangan potensi pembangunan dan identitasnya, menjadi saksi bisu jejak sepi yang ditinggalkan.
Di sisi lain, kota-kota besar pun tak luput dari masalah. Urbanisasi yang masif memicu kepadatan penduduk ekstrem, munculnya permukiman kumuh, tekanan pada infrastruktur (transportasi, air bersih, sanitasi), dan masalah sosial seperti kemacetan dan peningkatan kriminalitas. Kota menjadi sesak, rentan, dan seringkali kehilangan kenyamanannya.
Fenomena ini menciptakan ketidakseimbangan yang serius. Tanpa perencanaan tata ruang dan kebijakan pembangunan regional yang komprehensif, kesenjangan antara kota dan desa akan semakin melebar, mengancam keberlanjutan pembangunan nasional. Sudah saatnya kita melihat urbanisasi bukan hanya sebagai pertumbuhan, melainkan sebagai tantangan yang membutuhkan solusi holistik.