Kembali ke Jalur: Mahasiswa Menggugat Arah Pendidikan
Setelah era digital yang kerap memindahkan diskusi ke ranah daring, mahasiswa kini kembali memenuhi jalanan. Bukan sekadar protes reaksioner, gerakan "turun ke jalur" ini adalah gugatan serius terhadap fondasi sistem pendidikan nasional yang dinilai usang dan tidak relevan.
Mereka menyuarakan keresahan atas kualitas pembelajaran yang stagnan, kurikulum yang tertinggal dari dinamika global, tingginya biaya pendidikan yang kian mencekik, serta minimnya relevansi lulusan dengan kebutuhan riil pasar kerja dan tantangan masa depan. Pendidikan dianggap gagal mencetak individu yang kritis, adaptif, dan berdaya saing global, melainkan hanya "pabrik" pencetak gelar tanpa visi.
Gugatan ini adalah tuntutan akan reformasi fundamental. Mahasiswa mendesak pembaruan kurikulum yang lebih adaptif, transparansi anggaran pendidikan, peningkatan kualitas tenaga pengajar, serta otonomi kampus yang sesungguhnya. Mereka menginginkan sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai dan teori, tetapi juga pada pengembangan karakter, keterampilan pemecahan masalah, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Gerakan "turun ke jalur" ini adalah alarm bagi para pemangku kebijakan. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa, sebagai agen perubahan dan intelektual muda, tak akan tinggal diam melihat masa depan bangsa dipertaruhkan di ruang-ruang kelas yang tak lagi mencerahkan. Suara mereka adalah cerminan kebutuhan mendesak untuk merumuskan ulang visi pendidikan Indonesia yang lebih inklusif, relevan, dan berkeadilan.