Jangkar yang Goyah: Kodrat Pegawai Migran di Pusaran Darurat Global
Pegawai migran adalah denyut nadi ekonomi global, pahlawan devisa yang tak kenal lelah membangun impian di negeri orang. Namun, di tengah darurat garis besar—entah pandemi, krisis ekonomi, atau konflik—kodrat mereka terkuak dalam paradoks yang menyayat: esensial namun rentan, tangguh namun terabaikan.
Kodrat Ganda: Ketahanan dan Kerapuhan
Kodrat utama mereka adalah daya tahan luar biasa. Mereka beradaptasi dengan budaya baru, bahasa asing, dan kondisi kerja yang keras. Saat darurat melanda, ketahanan ini semakin teruji. Mereka tetap bekerja di garis depan, memastikan rantai pasok tidak terputus, atau berjuang bertahan hidup dengan sumber daya minim, demi keluarga di tanah air. Pengorbanan mereka seringkali tak terhingga, dengan prioritas utama adalah terus mengirim remitansi, bahkan ketika kesehatan atau keselamatan diri terancam.
Namun, kodrat ini juga beriringan dengan kerapuhan sistematis. Di tengah darurat, mereka sering menjadi kelompok pertama yang kehilangan pekerjaan, terisolasi, atau tidak memiliki akses ke layanan kesehatan dan jaring pengaman sosial. Status hukum yang ambigu, hambatan bahasa, dan kurangnya informasi membuat mereka mudah dieksploitasi dan terpinggirkan. Mereka adalah "jangkar" yang menopang banyak perekonomian, namun dalam badai, jangkar itu seringkali goyah dan terancam putus.
Seruan untuk Pengakuan dan Perlindungan
Darurat global telah menelanjangi kebutuhan mendesak untuk memahami dan menghormati kodrat sejati pegawai migran. Bukan sekadar apresiasi retoris, tetapi perlindungan konkret: inklusi dalam kebijakan darurat, akses setara ke layanan publik, serta pengakuan atas hak-hak dasar mereka sebagai manusia dan pekerja.
Mengabaikan kodrat mereka berarti mengabaikan pilar penting ekonomi dan kemanusiaan. Saat dunia menghadapi krisis berikutnya, kita harus memastikan jangkar ini tidak lagi dibiarkan goyah sendirian, melainkan diperkuat dengan solidaritas dan keadilan.