Ketika Debat Publik Tak Lagi Berdasar Substansi, Tapi Saling Sindir

Arena Debat: Saat Gagasan Terpinggirkan, Sindiran Jadi Pemenang

Dulu, debat publik adalah panggung adu gagasan, tempat para pemikir dan politisi menyajikan argumen berbasis data serta visi. Tujuannya mencerahkan masyarakat, menemukan solusi terbaik, dan memperkuat demokrasi. Namun, kini kita sering menyaksikan pergeseran yang mengkhawatirkan: debat tak lagi berdasar substansi, melainkan menjadi ajang saling sindir dan retorika kosong.

Fokus bergeser dari analisis mendalam dan data faktual ke personalisasi masalah, serangan ad hominem, atau lelucon sarkastik. Tujuannya bukan lagi meyakinkan dengan nalar, melainkan menjatuhkan lawan atau meraih simpati massa melalui emosi sesaat. Kemasan hiburan ini memang mudah menarik perhatian dan viral di media sosial, namun secara fundamental mengikis esensi pertukaran pikiran yang konstruktif.

Dampak dari pergeseran ini sangat merugikan. Masyarakat kesulitan membedakan mana fakta dan mana opini provokatif. Isu-isu penting yang membutuhkan pemikiran serius jadi trivial, dan kepercayaan terhadap proses demokrasi terkikis. Alih-alih mencari solusi bersama, debat justru memperlebar jurang polarisasi dan memicu permusuhan.

Sudah saatnya kita mengembalikan marwah debat publik. Menuntut para pelaku debat untuk kembali pada substansi, data, dan etika berargumentasi. Karena masa depan kebijakan publik dan kualitas demokrasi kita bergantung pada kemampuan kita berdiskusi secara sehat, bukan sekadar saling menjatuhkan dengan kata-kata pedas.

Exit mobile version