Siswa dan Jerat Algoritma: Fenomena ‘Tergila-gila’ Medsos yang Meresahkan
Dunia digital telah merangkul erat kehidupan remaja, tak terkecuali para siswa. Namun, di balik kemudahan konektivitas dan informasi, muncul fenomena "tergila-gila" terhadap alat sosial yang kian meresahkan. Ini bukan sekadar penggunaan biasa, melainkan obsesi yang mengganggu keseharian dan potensi diri.
Bagi siswa, platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube bukan sekadar hiburan, melainkan wadah ekspresi diri, mencari validasi, dan menjaga pertemanan. Sayangnya, desain platform yang adiktif dengan notifikasi tiada henti dan algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian, seringkali menjerumuskan mereka pada penggunaan berlebihan. Kondisi ‘tergila-gila’ ini termanifestasi dalam kecenderungan memeriksa ponsel setiap beberapa menit, cemas jika ketinggalan kabar (FOMO), hingga mengorbankan waktu penting lainnya.
Dampaknya? Prestasi akademik menurun karena fokus terpecah. Kesehatan mental terganggu dengan munculnya kecemasan, depresi, hingga perbandingan sosial yang tidak sehat. Waktu tidur berkurang, interaksi sosial tatap muka menipis, dan kemampuan berkonsentrasi pun melemah. Ironisnya, alat yang seharusnya mendekatkan justru kerap mengisolasi mereka dari realitas.
Fenomena ini membutuhkan perhatian serius. Siswa perlu dibekali kesadaran akan pentingnya batasan dan literasi digital yang sehat. Peran orang tua dan guru sangat krusial dalam membimbing, menetapkan aturan, serta mendorong aktivitas offline yang seimbang. Mari ciptakan lingkungan digital yang memberdayakan, bukan menjerat.