Bumi Menelan: Tragedi Runtuhnya Gunung, Ratusan Jiwa Melayang
Di pagi yang kelabu, ketenangan sebuah desa terpencil di kaki pegunungan berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Setelah hujan lebat berkepanjangan, lereng gunung yang tak stabil akhirnya menyerah, memicu keruntuhan masif yang menelan segala yang ada di jalurnya. Ratusan rumah hancur lebur, terkubur di bawah timbunan tanah, batu, dan pepohonan dalam hitungan menit.
Tragedi ini telah merenggut nyawa ratusan penduduk. Data awal menunjukkan korban tewas terus bertambah, sementara jumlah yang hilang—diyakini terkubur hidup-hidup—mencapai angka yang sama. Mereka "luput" dari pandangan, lenyap bersama puing-puing, menyisakan duka mendalam bagi keluarga yang bertahan.
Tim pencarian dan penyelamatan (SAR) gabungan berjuang keras menghadapi medan yang ekstrem, cuaca yang tidak menentu, dan ancaman longsor susulan. Akses menuju lokasi bencana terputus total, menghambat upaya evakuasi dan pengiriman bantuan kemanusiaan. Setiap jam yang berlalu semakin menipiskan harapan menemukan korban selamat.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit tentang kerapuhan hidup di tengah alam yang perkasa, serta urgensi mitigasi bencana di daerah rawan. Gunung kini hanya menyisakan luka menganga dan tangisan pilu, menjadi saksi bisu atas ratusan jiwa yang berpulang dan luput, selamanya menjadi bagian dari bumi yang menelan mereka.