Politik dan Narasi Sejarah: Siapa yang Mengendalikan Ingatan Kolektif?

Rebutan Narasi Bangsa: Politik dan Ingatan Kolektif

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu yang beku, melainkan medan pertempuran sengit di arena politik masa kini. Ingatan kolektif—kumpulan cerita, peristiwa, pahlawan, dan trauma yang diyakini bersama oleh suatu masyarakat—adalah harta tak ternilai yang kerap diperebutkan. Pertanyaannya: siapa yang sesungguhnya mengendalikan narasi ini, dan mengapa begitu penting?

Politik Menganyam Masa Lalu
Bagi entitas politik—baik itu pemerintah, partai, maupun kelompok ideologis—pengendalian narasi sejarah adalah kunci legitimasi dan kekuatan. Dengan membentuk bagaimana suatu bangsa mengingat masa lalu, mereka dapat:

  1. Membangun Identitas Nasional: Menentukan siapa "kita" dan apa nilai-nilai inti yang mempersatukan.
  2. Membenarkan Kekuasaan: Menarik garis lurus dari sejarah masa lalu yang "gemilang" atau perjuangan heroik untuk menjustifikasi posisi mereka saat ini.
  3. Merancang Masa Depan: Menggunakan pelajaran (atau versi pelajaran) dari masa lalu untuk memandu kebijakan dan visi ke depan.
  4. Membungkam Kritik: Menghapus atau meminggirkan bagian-bagian sejarah yang tidak nyaman atau yang dapat mengancam status quo.

Mekanisme Pengendalian
Pengendalian ingatan kolektif dilakukan melalui berbagai saluran:

  • Kurikulum Pendidikan: Buku teks sekolah adalah salah satu alat paling ampuh untuk menanamkan narasi resmi kepada generasi muda.
  • Media Massa dan Propaganda: Melalui berita, dokumenter, film, hingga media sosial, narasi tertentu terus-menerus disuntikkan ke ruang publik.
  • Monumen, Peringatan, dan Hari Nasional: Pembangunan patung pahlawan tertentu, perayaan hari-hari besar, atau penamaan jalan, semua itu adalah pengingat fisik dari versi sejarah yang diinginkan.
  • Sejarawan Resmi dan Kebijakan Arsip: Pemerintah dapat mendukung sejarawan yang selaras dengan narasi mereka atau membatasi akses ke arsip tertentu.

Konsekuensi Perebutan Ingatan
Ketika narasi sejarah dimonopoli oleh satu pihak, dampaknya bisa sangat dalam. Ia dapat menciptakan kohesi semu yang rapuh, menutupi kebenaran yang pahit, dan bahkan memicu konflik jika ada kelompok yang merasa sejarah mereka diabaikan atau diputarbalikkan. Di sisi lain, pertarungan narasi juga dapat membuka ruang bagi revisi sejarah yang lebih jujur dan inklusif, mendorong masyarakat untuk merefleksikan identitas mereka secara lebih kritis.

Kesimpulan
Ingatan kolektif bukanlah entitas pasif, melainkan konstruksi dinamis yang terus-menerus dibentuk dan dibentuk ulang. Dalam setiap masyarakat, selalu ada perebutan narasi tentang siapa kita dan dari mana kita berasal. Memahami bahwa sejarah adalah alat politik, menuntut kita untuk selalu bersikap kritis, mempertanyakan narasi dominan, dan mencari berbagai perspektif agar ingatan kolektif kita tidak menjadi sandera kekuasaan, melainkan cermin refleksi yang jujur bagi kemajuan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *