Identitas di Persimpangan: Politik, Globalisasi, dan Jiwa Bangsa
Era globalisasi, sebuah paradoks modern, menawarkan konektivitas tanpa batas sekaligus memicu pertanyaan fundamental tentang ‘siapa kita’ sebagai sebuah bangsa. Arus informasi, budaya, dan nilai-nilai yang tak terbendung dari seluruh penjuru dunia kini menggerus batas-batas tradisional, menciptakan krisis identitas nasional yang kini menjadi medan pertempuran sengit dalam lanskap politik.
Globalisasi membuat nilai-nilai universal berhadapan dengan partikularisme lokal. Masyarakat dihadapkan pada pilihan, atau bahkan kebingungan, antara mengadopsi identitas transnasional yang lebih terbuka atau justru memperkuat identitas sub-nasional/komunal yang lebih sempit. Generasi muda, khususnya, lebih mudah terpapar budaya populer global, yang seringkali dianggap ‘menggerus’ nilai-nilai luhur bangsa.
Di sinilah politik memainkan perannya. Krisis identitas seringkali dieksploitasi oleh aktor politik untuk tujuan tertentu. Narasi nasionalisme sempit, populisme reaksioner, atau pencarian ‘musuh bersama’ kerap digunakan untuk memobilisasi dukungan, yang sayangnya dapat memperparah polarisasi dan fragmentasi sosial. Sebaliknya, ada juga politisi yang berupaya merumuskan identitas nasional yang inklusif, adaptif, dan relevan, namun ini adalah tugas yang maha berat di tengah gejolak.
Menghadapi krisis identitas di era globalisasi bukan tentang menolak kemajuan atau menutup diri. Ini adalah tentang kemampuan untuk menyaring, mengadaptasi, dan merumuskan ulang makna ‘nasional’ agar tetap relevan tanpa kehilangan esensi jati diri. Identitas nasional yang tangguh adalah yang dinamis, berakar kuat pada nilai luhur, namun terbuka terhadap dialog dan perubahan, dan politik harus menjadi jembatan, bukan pemecah belah, dalam perjalanan pencarian jati diri bangsa ini.