Terpinggirnya Sang Penyeimbang: Mengapa Oposisi Sulit Bersinar dalam Demokrasi?
Dalam demokrasi yang ideal, oposisi adalah pilar krusial; penjaga keseimbangan, pengawas kekuasaan, dan penyedia alternatif kebijakan. Namun, ironisnya, peran mereka seringkali terpinggirkan, bahkan dalam sistem yang mengklaim kebebasan berpendapat. Mengapa demikian?
1. Keunggulan Petahana yang Inheren:
Pihak yang berkuasa memiliki akses tak terbatas pada sumber daya negara, aparatur birokrasi, dan platform komunikasi publik. Mereka dapat mengklaim keberhasilan pembangunan, membentuk narasi yang positif, dan menggunakan instrumen kebijakan untuk memenangkan hati rakyat. Oposisi harus berjuang dari luar, dengan sumber daya yang jauh lebih terbatas.
2. Kelemahan Internal Oposisi:
Seringkali, oposisi sendiri dilanda fragmentasi, kurangnya visi yang kohesif, atau ketiadaan figur pemimpin yang karismatik dan mampu menyatukan berbagai faksi. Konflik internal atau kegagalan menawarkan solusi konkret sering membuat mereka terlihat tidak siap atau kurang kredibel di mata publik.
3. Pengaruh Media dan Narasi Publik:
Media, baik yang terafiliasi dengan kekuasaan maupun yang memiliki agenda tertentu, dapat membentuk persepsi publik. Oposisi seringkali digambarkan sebagai pihak yang hanya mengkritik tanpa solusi, atau bahkan sebagai penghambat kemajuan. Narasi dominan yang dibangun petahana sulit dilawan tanpa platform yang kuat.
4. Sistem Pemilu dan Peraturan yang Menguntungkan:
Sistem pemilu tertentu, seperti mayoritas sederhana, cenderung menguntungkan partai besar atau petahana, mempersulit partai kecil atau oposisi untuk mendapatkan kursi signifikan. Selain itu, peraturan kampanye atau pendanaan politik seringkali memiliki celah yang lebih mudah dimanfaatkan oleh pihak yang berkuada.
5. Persepsi Publik dan Harapan Pragmatis:
Masyarakat kadang cenderung lebih memilih stabilitas dan janji-janji konkret dari pemerintah yang sedang berkuasa, terutama jika ekonomi sedang membaik. Oposisi yang hanya menawarkan kritik atau perubahan radikal bisa dianggap berisiko atau tidak realistis oleh pemilih yang pragmatis.
Singkatnya, kombinasi kekuatan petahana yang superior, kelemahan internal oposisi, dominasi narasi media, dan struktur sistemik seringkali menjadi tembok penghalang bagi oposisi untuk bersinar. Padahal, demokrasi yang sehat membutuhkan oposisi yang kuat dan kredibel, bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai alternatif yang layak demi kemajuan bangsa.