Berita  

Kekerasan di Badan Sosialisasi Terjadi Lagi

Ketika Sosialisasi Berlumur Kekerasan: Kisah Pilu yang Terulang

Berita kekerasan di lembaga sosialisasi kembali mencuat. Sekolah, asrama, panti asuhan, atau fasilitas pembinaan yang seharusnya menjadi tempat aman untuk tumbuh kembang, justru menjadi saksi bisu tindakan yang melukai fisik dan mental para penghuninya. Ironisnya, tempat yang ditujukan untuk membentuk karakter dan nilai positif ini kerap menjadi medan di mana kekuasaan disalahgunakan, dan jeritan korban seringkali tenggelam dalam keheningan.

Fenomena ini bukan sekadar insiden terpisah, melainkan cerminan dari akar masalah yang lebih dalam: minimnya pengawasan, budaya senioritas yang disalahgunakan, hingga ketidakmampuan institusi dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan bebas kekerasan. Korban, seringkali anak-anak dan remaja yang rentan, mengalami trauma mendalam yang dapat menghambat perkembangan mereka di masa depan dan bahkan berpotensi menciptakan siklus kekerasan baru.

Maka, sudah saatnya kita tidak lagi menutup mata. Diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak: pengawasan yang ketat, pelatihan staf yang komprehensif, mekanisme pelaporan yang aman dan terpercaya, serta penegakan sanksi yang tegas bagi pelaku. Lebih dari itu, membangun budaya empati dan saling menghargai adalah kunci agar lembaga sosialisasi benar-benar bisa menjalankan fungsinya: membentuk individu yang berkarakter, bukan bermental korban atau pelaku kekerasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *