Berita  

Kejadian Burnout Berjangkit di Golongan Pekerja Belia

Epidemi Senyap: Ketika Burnout Menjangkiti Pekerja Belia

Dunia kerja modern seringkali diwarnai dinamika cepat dan tuntutan tinggi. Di tengah pusaran ini, pekerja belia—generasi yang penuh semangat dan ambisi—justru menghadapi tantangan tak terduga: burnout. Fenomena ini bukan lagi sekadar kelelahan biasa, melainkan sebuah kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akut yang kini seolah ‘menular’ di kalangan mereka.

Mengapa burnout seolah berjangkit? Ada beberapa faktor pemicu. Pertama, tekanan ekspektasi tinggi—baik dari diri sendiri untuk berprestasi maupun dari lingkungan kerja yang menuntut produktivitas konstan. Kedua, era digital dan konektivitas tanpa batas menghapus batas jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, membuat mereka sulit beristirahat sepenuhnya. Ketiga, budaya ‘hustle’ dan perbandingan di media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang harus selalu sibuk dan sukses, memicu rasa takut ketinggalan (FOMO) dan bekerja berlebihan. Keempat, kurangnya dukungan dan bimbingan yang memadai dari atasan atau organisasi juga berkontribusi pada perasaan terisolasi dan kewalahan.

Dampaknya tidak main-main. Bagi individu, burnout dapat memicu masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi, penurunan kualitas tidur, serta hilangnya motivasi dan kreativitas. Bagi organisasi, hal ini berarti produktivitas menurun, tingkat turnover karyawan muda yang tinggi, dan atmosfer kerja yang tidak sehat. Lingkaran setan ini kemudian dapat menular ke rekan kerja lain, menciptakan budaya kerja yang toksik.

Untuk memutus rantai penularan ini, diperlukan upaya kolektif. Bagi pekerja belia: penting untuk mengenali batasan diri, berani mengatakan ‘tidak’, mempraktikkan self-care, dan mencari dukungan saat dibutuhkan. Bagi organisasi: perlu menciptakan budaya kerja yang suportif, menghargai keseimbangan hidup-kerja, menyediakan platform untuk berbicara tentang kesehatan mental, serta melatih pemimpin untuk menjadi lebih empatik dan responsif terhadap kebutuhan tim mereka.

Burnout di kalangan pekerja belia adalah alarm yang harus didengar. Ini bukan sekadar masalah individu, melainkan isu sistemik yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak. Dengan kesadaran, dukungan, dan perubahan budaya kerja yang nyata, kita bisa memastikan generasi muda dapat berkembang tanpa harus mengorbankan kesejahteraan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *