Politik Membentuk Lensa: Bagaimana Kekuasaan Melahirkan Ekosistem Media Berpihak
Dalam lanskap informasi modern, politik dan media adalah dua entitas yang tak terpisahkan. Interaksi keduanya bukan hanya sebatas pemberitaan, melainkan sebuah proses pembentukan yang mendalam, melahirkan ekosistem media yang kerap berpihak.
Politik membentuk media melalui berbagai cara. Pertama, kepemilikan dan pendanaan. Afiliasi politik pemilik media, baik langsung maupun tidak langsung melalui konglomerasi bisnis, seringkali menentukan arah redaksional. Dana kampanye, iklan politik, atau investasi dari pihak-pihak berkuasa dapat menciptakan keterikatan yang sulit dilepaskan dari independensi jurnalistik.
Kedua, regulasi dan kebijakan pemerintah. Pemerintah memiliki kuasa atas lisensi, frekuensi, hingga undang-undang pers yang bisa menjadi alat tawar-menawar atau bahkan tekanan terhadap independensi media. Ancaman pencabutan izin atau penyelidikan hukum dapat membungkam suara-suara kritis dan mendorong media untuk "bermain aman" atau bahkan mendukung narasi penguasa.
Ketiga, akses informasi. Pemerintah atau partai politik cenderung memberikan akses preferensial kepada media yang dianggap ‘sejalan’, sementara membatasi atau mempersulit media kritis. Ini menciptakan disparitas dalam kemampuan media untuk meliput dan mengakses sumber, secara tidak langsung memaksa mereka memilih sisi demi kelangsungan operasional.
Keempat, polarisasi ideologis. Masyarakat yang semakin terfragmentasi secara ideologis menciptakan permintaan akan berita yang menguatkan pandangan mereka. Media, sebagai entitas bisnis, akan cenderung mengadopsi narasi tertentu demi mempertahankan audiens dan relevansi, sehingga memperkuat bias yang sudah ada.
Ekosistem media yang berpihak ini memiliki konsekuensi serius. Ia melahirkan ‘ruang gema’ (echo chambers) di mana individu hanya terpapar pada informasi yang mengkonfirmasi keyakinan mereka, memperkuat bias dan mempersempit perspektif. Ini mengikis kepercayaan publik terhadap institusi media secara keseluruhan dan mempersulit masyarakat untuk mendapatkan gambaran obyektif tentang isu-isu penting. Pada gilirannya, ini melemahkan debat publik yang sehat dan rasional, serta berpotensi memecah belah masyarakat.
Singkatnya, politik bukan sekadar subjek pemberitaan, melainkan arsitek yang tak terlihat dari bagaimana berita disajikan. Ia membentuk lensa di mana publik melihat realitas, seringkali dengan bias yang disengaja atau tidak disengaja. Memahami interaksi ini adalah langkah krusial bagi setiap warga negara untuk menjadi konsumen informasi yang cerdas dan kritis.