Budaya Bukan Sekadar Panggung: Waspadai Topeng Elektoral!
Budaya adalah mahkota identitas suatu bangsa, pilar kearifan lokal yang membentuk karakter dan peradaban. Namun, di tengah hiruk-pikuk kontestasi elektoral, tak jarang kita menyaksikan bagaimana simbol-simbol budaya yang luhur justru dipolitisasi, direduksi menjadi sekadar "topeng" atau "panggung" demi meraup suara.
Fenomena ini seringkali tampak saat calon-calon pemimpin tiba-tiba mengenakan pakaian adat, menggunakan dialek lokal, atau bahkan menari tarian tradisional yang sebelumnya jarang mereka sentuh. Tujuannya bukan semata melestarikan atau menguatkan identitas, melainkan menciptakan citra "merakyat," "paham budaya," atau "dekat dengan akar rumput" secara instan.
Praktik ini berbahaya karena mengaburkan esensi budaya itu sendiri. Budaya hanya dijadikan komoditas politik, kehilangan kedalaman makna dan nilai-nilai luhurnya. Masyarakat bisa tertipu oleh penampilan, mengabaikan rekam jejak, visi-misi, serta program substantif yang seharusnya menjadi fokus utama. Ini melemahkan partisipasi politik yang sehat dan kritis, karena perhatian dialihkan dari substansi ke superficialitas.
Oleh karena itu, sebagai masyarakat dan pemilih, kita wajib bersikap kritis. Jangan mudah terpukau oleh tampilan budaya yang instan dan artifisial. Tuntutlah konsistensi, rekam jejak, serta visi-misi konkret para kandidat dalam memajukan budaya, bukan hanya menggunakannya sebagai alat kampanye.
Budaya adalah warisan tak ternilai yang harus dijaga kemurnian dan kedalamannya. Jangan biarkan ia menjadi sekadar panggung sandiwara politik musiman. Mari kita jaga budaya kita dari eksploitasi dan pilih pemimpin yang benar-benar menghargai serta berkomitmen pada kelestarian, bukan hanya pada citra elektoral sesaat.